Skip to main content

Tren Modifikasi 2010

Seperti halnya tren feshion yang berubah setiap tahunnya, begitu pula trend modifikasi di dunia otomotif. Tahun depan tren modifikasi motor akan mengarah ke bentuk yang tak sekedar ekstrim, tapi punya desain menarik dan masih nyaman dipakai harian.

Menurut pakar desain produk dari Institut Teknologi Bandung, Amirul Nevo, motor modifikasi pantas dianggap terbaik jika konsep dan rubahannya ekstrem namun tetap mampu membuat motor mudah dikendarai dan nyaman dipakai untuk aktivitas sehari-hari.

“Konsep desain harus kuat secara ide, selanjutnya dikerjakan oleh ahlinya dengan pengerjaan hingga detil dan finishing art work,” kata Nevo.

Itu baru dari sisi design. Dari sisi teknisnya sendiri pemegang ijazah master di bidang desain produk ini mengatakan konstruksi motor modifikasi harus benar. Prinsipnya, imajinasi sang modifikator juga harus sejalan dengan teknik rangka konstruksi motor. “Ini penting karena terkait dengan faktor safety dan juga kenyamanan sang pemakai,” tegas Nevo.

Berdasarkan kriteria tersebut, salah satu contoh desain yang tahun depan diprediksi kuat bakal menjadi trend adalah modifikasi motor gaya Flat tracker dan Board tracker, yaitu model motor balap era tahun 1940-an. Prinsip design motor flat tracker dan board tracker hampir sama, yaitu handle bar atau setang yang pendek dan melengkung kebawah memungkinkan pengemudinya merunduk untuk mengurangi hambatan angin. Posisi kaki menjepit tangki yang ramping.

Salah satu karya design modifikator yang mengadopsi tren ini adalah pemenang U Mild Modification Contest asal Yogyakarta, Agus Daritz. Motor tua CB 100 tahun 1976 disulapnya menjadi motor era balap flat tracker tahun 1940-1950-an. Karya ini kemudian yang mengantarkan Agus ke podium juara sebagai Best of the Best U Mild Modification Contest seri Yogyakarta. Setelah menang, pada kompetisi modifikasi berikutnya di U Mild Modification Contest seri Jakarta, Agus kembali bersama karya barunya.

Kali ini bergaya motor balap board tracker yang diterapkan di motor GL 100. Agus pun kembali menyabet dua juara sekaligus, sebagai pemenang Best of the Best dan U-Extreme di U Mild Modification Contest seri Jakarta.

Salah satu pakar modifikasi yang juga builder kawakan Lulut Wahyudi mengatakan, modifikasi gaya flat tracker dan board tracker ini konsepnya cukup ekstrim yaitu dari sebuah motor lawas non motor balap disulap menjadi motor balap era yang lebih lawas. “Motor dengan gaya ini mengingatkan saya pada flat tracker di era balap tahun 50-an, hanya beda di stang saja, andai stangnya bengkok ke bawah pasti sama persis, di situ kelebihannya dan cukup ekstrem,” jelas builder kenamaan ini.

Design modifikasi yang menonjol tahun ini dan akan berkembang tahun depan juga bisa dilihat dari karya Haidir Rusdian, pemenang kontes Modifikasi U Mild U Bikers Festrack 2009 di Samarinda. Motor Suzuki Thunder 250 miliknya digubah menjadi sebuah motor yang futuristik. Haidir mengaku terinspirasi dari prostreet chopper. Salah satu juri modifikas,i Indra 'bluesman' Pranajaya, menjelaskan bahwa motor karya Haidir diakui oleh para juri paling inovatif dari tingkat kesulitan pengerjaan dan ide yang sangat konsepsual. “Haidir mampu melawan arus dari trend sekitarnya, ini patut kami acungkan jempol. Walaupun melawan arus pengerjaan motor dikerjakan dengan sesuai secara teknik konstruksi sehingga bisa dikendarai dengan nyaman dan aman,” jelas Indra.

Motor motor milik Agus Daritz, dan Haidir Rusdian sendiri akan bertarung menjadi Best of The Best tingkat nasional di gelaran final U Mild U Bikers Modification Contest di Kenjeran, Surabaya, 21-22 November besok. Brand Manager U Mild Achmad Nasyiruddin mengatakan modifikator terbaik dari yang terbaik alias Best of The Best Modifikator akan diberangkatkan U Mild ke ajang Motorshow Internasional tahun 2010. “Tak hanya orangnya, tapi juga motornya diboyong ke negeri gajah itu, untuk ditampilkan di hadapan pengunjung event modifikasi terbesar di Asia Tenggara ini,” tegas Nasyir

Comments

Popular posts from this blog

Shadow Hawk Unveils The Ultimate Super Terrain Armored Vehicle

For those with big pockets and high headedness who love power and demand luxury with security, this super armored vehicle dubbed the Shadow Hawk suits the best. The Street Hawk is amazingly crafted vehicle with the ability to independently raise or lower each of its wheels up to 46 inches without camber or caster compromise and its ground clearance is adjustable from 0-44 inches even when in motion. The ultimate super terrain vehicle is equipped with monster engine producing 1100hp and 1,805 foot pounds of torque. The all-wheel-drive vehicle with 40 inch tall, 15.5 inch wide tires and 22 inch wheels weighs 4,800 pounds and has a top speed of 208mph. Sprint from 0 to 60mph can be achieved in 3.5 seconds and its fuel economy on highway is estimated at 22mpg. It also features innovative active suspension system, air suspended seats and vehicles pitch; roll and overall ride height can be adjusted from the driver’s seat while using D-pad controls beneath your ...

Mimpi-mimpi benua Eropa dari Paris Motor Show

Mondial de l'Automobile 2012: Concept Cars Mimpi-mimpi benua Eropa dari Paris Motor Show Oleh Evan Orensten pada 3 Oktober 2012 Paris motor show 2012 mempersembahkan dan memaksa para pembuat mobil untuk melenturkan kembali otot-otot desain mereka pada bukan hanya pada sisi produksi tapi juga dalam hal berkonsep. Inilah dia 7 model favorit yang dianggap cukup mewakili imajinasi bangsa-bangsa Eropa. Peugeot Onyx Sebuah konsep yang nyata—hadir untuk menjadi topik pembicaraan, namun nampaknya tidak akan diproduksi dalam waktu dekat ini.—Peugeot's Onyx   terbuat dari bahan tembaga, serat karbon, dan daur ulang koran. The Onyx dibayangkan menjelma menjadi supercar hybrid yang super ringan, namun dibekali mesin V8 demi melejitkan 600 tenaga kuda. Peugeot juga berkiblat lebih jauh lagi, dengan tidak hanya menhabiskan waktu di automobile tapi juga menggugah eksplorasi di dunia transportasi dua roda. eDL 132 disinyalir ditempel oleh batere tersembunyi dan mo...

Kanzen:Benih Motor Nasional

Adalah suatu ironi yang menyedihkan jika bangsa Indonesia yang mampu membuat pesawat terbang nasional tidak mampu membuat sebuah motor nasional sendiri. Selama puluhan tahun, industri dan pasar otomotif Indonesia dikuasai oleh vendor-vendor dari Jepang, tetapi hal itu tidak membuat bangsa Indonesia mampu mengembangkan teknologi otomotif secara mandiri malah semakin membuat bangsa ini semakin tergantung oleh teknologi dari Jepang. Memang transfer teknologi, sumber daya manusia kita memiliki kemampuan memproduksi komponen-komponen otomotif di dalam negeri sendiri, sayangnya hal itu untuk menyuplai kebutuhan komponen otomotif vendor Jepang di dalam negeri maupun di luar negeri. Indonesia tidak diperbolehkan membuat produk-produk otomotif dengan merek atau brand sendiri dengan menggunakan teknologi dari Jepang. Ini membuat tenaga-tenaga ahli otomotif kita hanya sebagai “buruh” bagi para vendor Jepang, bukan sebagai “majikan” di negerinya sendiri. Di samping itu, pemerintah tidak membuat ...